Working for yourself, the result should have a positive impact to others

RSBI atau Reguler?


Perhatikan pendapat berikut ini:

Seandainya pemikiran seperti pak IP (inisial) dimiliki oleh para hakim MK, tentu keputusan MK akan berbeda. Betul RSBI harus disempurnakan dan diperbaiki, tapi bukan dengan cara membubarkannya. Ibarat ingin membasmi tikus yang ada di lumbung padi, cara yang bijak bukan dengan membakar lumbung tersebut, tapi bagaimana agar tikus-tikus itu tidak masuk ke lumbung padi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, sekarang bagaimana agar bubur itu menjadi bubur spesial. Ada atau tidak RSBI semangat untuk memajukan pendididkan tidak boleh surut. Ayo pengalaman baik dan berharga dari program RSBI tetap kita jadikan sebagai guru yang terbaik. Tetap semangat !!!!

Paparan tulisan di atas menggambarkan dengan jelas bahwa di sekolah RSBI ada “tikus”. Usulan pembasmiannya saja yang jangan membakar lumbungnya. Jika kita punya kejujuran, seharusnya sekolah RSBI memaparkan secara terbuka apa yang terjadi di masing-masing sekolahnya. Sehingga pihak di luar sekolah dapat mencermati apa adanya. Saya sudah mencoba membuka situs-situs sekolah RSBI, saya tidak cukup mendapatkan informasi terutama tentang struktur kurikulumnya, apalagi sistem SKSnya, apalagi jumlah dana yang diterima dari Orang Tua Peserta didik dan atau dari Pemerintah.

Kalau sekolah RSBI pada awalnya sudah merupakan sekolah favorit (sering kali kategori sekolah senior di kota tersebut), lalu peserta didiknya juga sudah pilihan utama (terbaik) dari calon peserta didik dan orang tuanya juga termasuk sangat peduli dalam hal membiayaipendidikan (karena mampu secara finasila), apalagi perekrutan diperbolehkan mendahului sekolah reguler, yang artinya akan mendapat calon siswa terbaik di kota tersebut, lalu sekolah tersebut membanggakan kelulusannya yang memiliki rangking NUN tinggi, peran sekolah dalam hal proses belajar mengajar yang dominan di bagian mana?.

Bila siswanya sudah “pintar” sejak awal, orang tuanya juga memfasilitasi dengan “bimbel” plus “les privat”, pemenuhan fasilitas di rumah juga jauh melampau peserta didik siswa sekolah reguler, apa yang dapat dibanggakan dengan biaya yang tinggi dan dana yang besar dari pemerintah untuk RSBI, bahwa dukungan materiil tadi mempengaruhi prestasi peserta didik RSBI? Bukankah semuanya hal yang wajar dan relevansi antar variabel yang juga normal-normal saja?

Sesekali mari kita renungkan, dalam setahun berapa eksemplar buku yang diberikan pemerintah daerah maupun pusat kepada sekolah reguler (ada fakta nol eksemplar), berapa buah perangkat atau media pembelajaran atau komputer atau proyektor yang diberikan kepada sekolah reguler dalam setahun atau dua tahun atau bahkan dalam lima tahun terakhir? Karena terkadang sekolah negeri dalah cuma “gelar”, dan memang asset milik pemerintah daerah, namun terkadang pemerintah daerah terkadang “mengabaikan” atau “lupa” bila memiliki sekolah.

Mari kita belajar terus demi bangsa ini.

Comments on: "RSBI atau Reguler?" (1)

  1. Saya setuju dengan opini bapak,karena toh RSBI belum tentu kualitasnya melebihi anak reguler,bahkan ada sekolah dengan title RSBI dimana nilai-nilai mata pelajarannya kurang dari standard yang ditetapkan (atau sama saja dengan anak reguler,karena standard mereka lebih sedikit dari reguler) bahkan tidak menuntut kemungkinan nilai mereka di bawah standard.Mereka hanya memanfaatkan kekayaan yang dipunyai orangtua mereka. Saya pribadi malu,bila saya bertitle RSBI,namun dalam hati saya tak mampu atau belum mampu menjabat title itu.Ini adalah fakta.Fakta dari masyarakat sekitar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: